CAHAYA CINTA DI PANTAI MARINA 03

APAKAH SEPERTI INI TENTANG DIRIMU


Sunyi. Mereka larut dalam pikirannya masing-masing. Terkadang desau bayu menyapa lembut. Dan nyanyian belalang mengalun dalam keteraturan harmoni irama, begitu indah terdengar. Malam semakin mendekati fajar. 


Terngiang ocehan Gibran dibenak 'Suzume, orang yang berjiwa besar memiliki dua hati; satu hati menangis dan yang satu lagi bersabar. Aku sekarang telah memiliki satu hati: menangis. Tapi apakah aku bisa memiliki hati yang satunya lagi: bersabar? Ah, terkadang aku berpikir hidup ini tidak adil. Mengapa benih ketulusan dan kesetiaan yang telah kami tanam, harus tumbuh jadi perpisahan? 


Sejuta tanya tanpa jawab berkelebat begitu saja dibenak 'Suzume.


"Syuhada", tiba-tiba 'Suzume memecah kesunyian yang dari tadi mendera. "Apa yang kamu ketahui tentang cinta sejati?" tanya 'Suzume


"Menurutku, dibalik cinta sejati tidak ada pamrih. Seperti ketika Rabi'ah al Adawiyah mencintai Tuhannya, itu bukan karena dia mengharapkan surga ataupun bukan karena takut neraka. Akan tetapi,  karena Tuhan memang dzat yang semestinya dicintai. Itulah cinta sejati", jawab Syuhada agak sufistik. 


"Sekarang apa yang harus kulakukan? Apakah begitu saja melupakan Ryu ? Melupakan 


ikrar setia yang pernah kami pahat?" kembali beberapa pertanyaan meluncur. 


"Aku tak pernah memintamu untuk melupakan Ryu. Apalagi mengingkari janji yang telah kau tanam. Permasalahan ini takkan pernah selesai kalau hanya dipikirkan. Alangkah baik jika kamu menemui Ryu, semua permasalahan dibicarakan dari hati ke hati", saran Syuhada. 


'Suzume termenung. Sambil mendesah, lalu mengangguk agak berat. "Mungkin itu solusi terbaiknya", katanya sambil melangkah masuk.


Siang tak begitu terik. Ada mendung bergelayut di langit biru. Semendung hati dua insan yang dilanda keresahan. Bimbang. Antara kesetiaan cinta, atau keabadian kasih dan orang tua. 


Sebab, cinta yang sebenarnya tidaklah mendatangkan luka dan derita. Terngiang senandung cinta Jalaluddin Rumi; Karena cinta duri menjadi mawar, Karena cinta cuka menjelma anggur segar, Karena cinta pentungan menjadi mahkota penawar, Karena cinta kemalangan menjadi keberuntungan, Karena cinta rumah penjara nampak bagaikan kedai mawar, Karena cinta timbunan debu kelihatan sebagai taman, Karena cinta api berkobar menjadi cahaya menyenangkan, Karena cinta Syaitan berubah menjadi bidadari, Karena cinta batu keras menjadi lembut bagaikan mentega, Karena cinta duka menjadi riang gembira, Karena cinta hantu berubah menjadi malaikat, Karena cinta singa tidak menakutkan bagaikan tikus, Karena cinta sakit menjadi sehat, Karena cinta amarah berubah menjadi keramah-tamahan.

Komentar

Postingan Populer