CAHAYA CINTA DI PANTAI MARINA 01
ANDAIKAN AKU MEMIKIRKAN MU DALAM REPLIKA CINTA
Senja di pantai Marina. Sinar cahaya mentari berkilau mencipta berlian di lidah ombak. Lambaian nyiur kelapa menyambut pandangan mentari senja itu. Subhanallah, ma ajmala nazharuhu! Keindahan senja yang sempurna. Hanyalah orang yang mempunyai jiwa estetiklah yang mampu merasakan keindahan tersebut. Namun tidak bagi Ryu. Baginya senja itu menyisakan sejuta tanya tak terjawab. Langkahnya terlihat gontai. Sesekali kakinya dijilat ombak, berkabar tentang cinta yang larut dalam deburnya.
"Di pasir putih itu, nama kita masih ada walau kini tak tampak. Jadi prasasti tak tertulis. Bahwa cinta suci akan mengabadi!" Itulah suatu keyakinan yang hingga saat ini masih terpatri di sepanjang halaman mushaf kehidupannya. Menjadi sesuatu untuk meraih sebuah harapan. Meski laut pasang telah merampasnya. Tentang 'Suzume yang kini entah kemana?
"Ketakhadiran bukanlah ketak-adaan yang harus melahirkan luka!" Gumam Wazni suatu senja yang lain. Dialah sahabat sejati Ryu yang selalu hadir kala resah menderanya. Jadi embun kala dahaganya sangat kerontang. Simbol persahabatan tak berpamrih. Sebab, persahabatan bagi mereka seumpama musik yang bermelodi, atau ibarat prosa yang berlirik. Kehadirannya begitu indah dan menyegarkan semangat hidup.
"Kau benar, tak semestinya aku meratapi ketakhadirannya di sini, what next? Lalu aku harus bagaimana? Aku tak bisa bohong akan kenyataan perasaanku, bahwa aku tetap merasa hampa tanpa dia!", Ryu berkeluh sambil menyeduh kopi yang sudah mendingin, sedingin jiwanya yang lagi hampa. Dan senja pun terus merangkak mendekati malam.
Wazni mendesah, mencoba memasuki relung jiwa sahabatnya yang bergejolak. "Ketulusan dalam mencinta seharusnya mampu menghadirkan keharmonisan dalam kehidupanmu, keresahan hanyalah seonggok nafsu tak akan sia-sia". Ryu menimpali, "aku masih ingat apa yang pernah ditulis oleh Gibran; Cinta telah membuat suatu kekuatan menjadi lemah, aku mewarisinya dari Manusia Pertama, itulah yang terjadi dan berkecamuk dalam batin. Kekuatanku seakan hilang, kaki ini gontai tuk melangkah.
"Ryu, kita tidak bisa memaknai cinta dari sudut pandang kekecewaan", kembali Wazni mencoba mengembalikan jiwa sahabatnya yang lagi kerontang. "Aku yakin apa yang diucapkan Gibran itu tidak untuk menenggelamkan sang pencinta dalam kelemahan dan ketakberdayaan, sebab cinta bagiku adalah kekuatan, kekuatan untuk hidup, kekuatan untuk mencapai keinginan, kekuatan menuju tujuan, dan kekuatan untuk selalu bangkit dari kegagalan. Kita terlahir dari
kekuatan cinta SangMahaCinta, mengapa kita mesti lemah oleh kekuatan tersebut?"

Komentar
Posting Komentar